Skip to main content

In Memoriam




aku tahu, aku harus siap! 
meski tulang-tulangku mulai rapuh, 
Kulitku mulai keriput. 
kedua mata mulai menyipit.
sekujur tubuh penuh atas luka yang amat perih. 
.
aku pernah berjaya, kala itu. 
namun, juga pernah takluk karena malu. 
ditengah guyuran hujan pada akhir tahun. 
karena tendangan jarak jauh.
tengadah dan selalu tengadah. 
Bermain habis-habisan hingga tetes keringat terakhir terperas dari tubuh kita.
Hmm... Itu sebab aku geram. 
Tak rela melihat kita tertunduk seperti tak bernyali. 
aku ingin berteriak sekencang-kencangnya
"Kudu menang! ojo kalah!" 
.
aku teringat.
ketika kaki beradu kaki. 
bahkan mulut juga mengikuti.
pujian bahkan makian tersemat pada kedua telinga ini.
tapi, aku tak peduli.
aku masih fokus dengan bola itu.
dan ku abaikan rindu yang menyeruak kala itu
Namun, bola itu berhasil mengelabuiku.
aku mulai terpukul.
meskipun ratusan orang bertepuk tangan memujiku.
.
.
Hmmm..
Kini, aku hanya bisa mengangkat tangan. 
melawan apa yang ada pada benak.
ingin kembali. tapi tak mungkin!
ingin pula merasakannya saat ini.
tapi juga mustahil!
aku hampir menyerah.
semua energi terkuras habis tak berguna.
tapi aku harus bermimpi.
karena mimpi itu harus indah. 
layaknya masa lalumu yang kau jalani bersama keluarga tercinta.
.
.
"ngempet iku kuncine wong sukses"
Kata Abah pada lebaran.
.
.
Surabaya, 20 Mei 2018
#tholabulilmiajadulu

Comments

Popular posts from this blog

Aku harus bagaimana, Sang pemilik hati?

di kota ini, aku sering tertidur, meskipun panas menghitamkan sekujur lenganku, dan tak ada ruang gerak yang tersedia, . di kota ini, aku sering melamun, meskipun seluruh tempat sangat riuh, dan tak ada waktu untuk beradu mulut, . di kota ini, aku tak seperti mengadu nasib, meskipun dituntut untuk berjuang sendiri, dan tak ada waktu untuk menghibur hati, . dan di kota ini pula, aku tak mengerti, "aku harus bagaimana?" teriak dalam hati, meskipun aku sering dinasihati, dan tak memiliki penyakit hati, . Aku sering memaki dalam hati, namun, tak berani mengungkapkan dalam publik, Aku seringkali ingin berbenah dalam hati, namun, realita sering menipu sehari-hari, . . Aku harus bagaimana, Sang pemilik hati?? . . Surabaya, 25 Mei 2018 14:35

Dulunya, sukses

Semenjak di rahim ibu, kita sejatinya sudah sukses dulu. sukses mengalahkan belasan juta calon saudaramu, hingga kita ada di alam ini,  bersama orang-orang yang diberikan misi oleh Sang Pencipta, untuk menjalankan segala perintah-Nya, dan menjauhi segala larangan-Nya. kita sejatinya sudah dicap sebagai pemenang, namun nyatanya? kita masih kurang bersyukur. atau bahkan lupa untuk apa kita melihat, mendengar, atau bernafas hingga detik ini. "kok, aku begini? kok mereka begitu?" kan Allah sudah berfirman di QS Al-A'raf dua lembar terakhir? “ Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, b...

Mengharap Lupa

Lupa itu sebagian dari Iman, yang seringkali di lupa sebagian manusia. kehadiran lupa dalam kehidupan, terkadang menjemukan, seperti hal yang ingin diucapkan, tiba-tiba lupa di tengah jalan terkadang menyenangkan, seperti PR yang lupa diingatkan oleh gurunya. disambut riang gembira dengan siswanya, dan terkadang setengah-setengah, seperti.... Ah Sudahlah! semua pasti ingin melupakan. tapi tak semua ingin dilupakan, semua mungkin ada yang ingin dilupakan, tapi tak semua ingin melupakannya. karena masa lalu mayoritas tak ada di masa depan, meskipun ada beberapa bagian, yang hampir persis pernah dilakukan, semua pasti ingin meraih sukses di masa depan. tapi untuk meraihnya pasti mengingat yang ada di belakang, sedemikian hingga, Allah senantiasa hadir dalam kehidupan kita... Surabaya, 5 September 2018 #tholabulilmiajadulu