Skip to main content

Aku harus bagaimana, Sang pemilik hati?


di kota ini, aku sering tertidur,
meskipun panas menghitamkan sekujur lenganku,
dan tak ada ruang gerak yang tersedia,
.
di kota ini, aku sering melamun,
meskipun seluruh tempat sangat riuh,
dan tak ada waktu untuk beradu mulut,
.
di kota ini, aku tak seperti mengadu nasib,
meskipun dituntut untuk berjuang sendiri,
dan tak ada waktu untuk menghibur hati,
.

dan di kota ini pula, aku tak mengerti,
"aku harus bagaimana?" teriak dalam hati,
meskipun aku sering dinasihati,
dan tak memiliki penyakit hati,
.
Aku sering memaki dalam hati,
namun, tak berani mengungkapkan dalam publik,
Aku seringkali ingin berbenah dalam hati,
namun, realita sering menipu sehari-hari,
.
.
Aku harus bagaimana, Sang pemilik hati??
.
.

Surabaya, 25 Mei 2018
14:35

Comments

Popular posts from this blog

Mengharap Lupa

Lupa itu sebagian dari Iman, yang seringkali di lupa sebagian manusia. kehadiran lupa dalam kehidupan, terkadang menjemukan, seperti hal yang ingin diucapkan, tiba-tiba lupa di tengah jalan terkadang menyenangkan, seperti PR yang lupa diingatkan oleh gurunya. disambut riang gembira dengan siswanya, dan terkadang setengah-setengah, seperti.... Ah Sudahlah! semua pasti ingin melupakan. tapi tak semua ingin dilupakan, semua mungkin ada yang ingin dilupakan, tapi tak semua ingin melupakannya. karena masa lalu mayoritas tak ada di masa depan, meskipun ada beberapa bagian, yang hampir persis pernah dilakukan, semua pasti ingin meraih sukses di masa depan. tapi untuk meraihnya pasti mengingat yang ada di belakang, sedemikian hingga, Allah senantiasa hadir dalam kehidupan kita... Surabaya, 5 September 2018 #tholabulilmiajadulu

Bermimpilah selagi mampu!

“Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia...” Begitulah sepenggal lirik lagu “Laskar Pelangi” yang sangat populer di kalangan masyarakat pada pertengahan tahun 2008. Kala itu, saya masih berusia 10 tahun dan duduk di kelas VI MIN Beron. Saya adalah salah satu siswa yang paling muda diantara 38 siswa di kelas dan juga sering bermimpi ketika di kelas. Salah satu guru bahkan menjuluki saya sebagai “Bocah pemimpi”. Pada saat akan diwisuda, guru saya memberikan nasihat kepada kami. “ Mimpi itu boleh. Tapi yang tidak boleh itu kalau mimpi itu tidak dilakukan. Wujudkan mimpi-mimpimu. Meskipun kalian tertatih-tatih dalam menggapainya. Jangan lupa untuk mendo’akan orang tua kalian di rumah. Mereka akan senang melihat kalian sukses di kemudian hari. ” kata beliau dengan air mata yang mulai menetes di sudut matanya. * Tahun 2018 bertepatan dengan 20 tahun karir saya selama di dunia ini. Suka maupun duka telah saya lewat...