Skip to main content

UNAS YANG SEMAKIN MENAKUTKAN




Pendidikan adalah topik bahasan yang tidak ada habisnya dibicarakan oleh berbagai kalangan. Seringkali pemerintah lah yang selalu di salahkan dalam permasalahan ini. Banyak yang harus di selesaikan pemerintah dalam mengatasi masalah ini. Salah satunya adalah masalah UNAS ( Ujian Nasional ). Seperti yang relah dibicarakan dalam berbagai media di Indonesia ( Mungkin penulis juga pernah mengalami ) bahwa banyak sekali kecurangan yang terjadi dalam penyelanggaraan ujian tersebut. Mulai dari bocornya soal lewat media sosial atau internet, beredarnya kunci jawaban di kalangan siswa-siswi yang akan menghadapi ujian tersebut. Entah itu lewat pesan singkat, BBM, WhatsApp, Facebook, dan lain sebagainya. Mengapa bisa terjadi demikian? Salah satu faktornya adalah semakin sulit materi soal yang akan diujikan. Inilah yang membuat mereka mencari jalan lain yang akan membuat nilai mereka menjadi tinggi. Selain itu, faktor yang membuat mereka mengambil kunci jawaban adalah kurangnya pemahaman materi UNAS.

Solusi yang pemerintah terapkan yaitu menambah kode soal memang menjadi “angin segar” bagi guru-guru. Namun, itupun juga belum bisa menghentikan niat jahat dari para oknum nakal yang membocorkan jawaban UNAS. Walaupun jawaban yang disebarkan para oknum belum tentu kebenaarannya, para siswa-siswi masih “percaya” jika jawaban itu benar. Bahkan untuk membeli kunci jawaban tersebut bisa memakan biaya mencapai jutaan rupiah dan itupun diambil beberapa jam sebelum ujian dimulai. Bisa diambil kesimpulan bahwa UNAS ini seharusnya menjadi bahan evaluasi pembelajaran selama 3 tahun di sekolah. Namun, opini yang berbeda justru datang dari siswa-siswi itu sendiri. Mereka beropini bahwa UNAS itu merupakan momok menakutkan yang hadir dalam tahun terakhir mereka menuntut ilmu di sekolah. Terdengar kabar bahwa UNAS akan dihapuskan beberapa tahun kedepan. Tapi, entah apakah itu benar adanya atau tidak yang pasti menarik kita tunggu apa yang akan direncanakan pemerintah dalam mengatasi masalah ini.

Comments

Popular posts from this blog

Aku harus bagaimana, Sang pemilik hati?

di kota ini, aku sering tertidur, meskipun panas menghitamkan sekujur lenganku, dan tak ada ruang gerak yang tersedia, . di kota ini, aku sering melamun, meskipun seluruh tempat sangat riuh, dan tak ada waktu untuk beradu mulut, . di kota ini, aku tak seperti mengadu nasib, meskipun dituntut untuk berjuang sendiri, dan tak ada waktu untuk menghibur hati, . dan di kota ini pula, aku tak mengerti, "aku harus bagaimana?" teriak dalam hati, meskipun aku sering dinasihati, dan tak memiliki penyakit hati, . Aku sering memaki dalam hati, namun, tak berani mengungkapkan dalam publik, Aku seringkali ingin berbenah dalam hati, namun, realita sering menipu sehari-hari, . . Aku harus bagaimana, Sang pemilik hati?? . . Surabaya, 25 Mei 2018 14:35

Mengharap Lupa

Lupa itu sebagian dari Iman, yang seringkali di lupa sebagian manusia. kehadiran lupa dalam kehidupan, terkadang menjemukan, seperti hal yang ingin diucapkan, tiba-tiba lupa di tengah jalan terkadang menyenangkan, seperti PR yang lupa diingatkan oleh gurunya. disambut riang gembira dengan siswanya, dan terkadang setengah-setengah, seperti.... Ah Sudahlah! semua pasti ingin melupakan. tapi tak semua ingin dilupakan, semua mungkin ada yang ingin dilupakan, tapi tak semua ingin melupakannya. karena masa lalu mayoritas tak ada di masa depan, meskipun ada beberapa bagian, yang hampir persis pernah dilakukan, semua pasti ingin meraih sukses di masa depan. tapi untuk meraihnya pasti mengingat yang ada di belakang, sedemikian hingga, Allah senantiasa hadir dalam kehidupan kita... Surabaya, 5 September 2018 #tholabulilmiajadulu

In Memoriam (2)

"....malam begini. malam tetap begini, entah mengapa, Pagi enggan kembali..." . . Ada sebuah cerita, disudut kota itu. Ada sebuah cerita pula,  dipenghujung hari kala itu. Dan ada sebuah cerita pula, yang kebetulan dimakan oleh waktu Ia ingin bercerita, tentang musim dingin akhir tahun 2014, Ia ingin pula bercerita, tentang kenangan bersama sahabatnya, Dan Ia ingin pula bercerita tentang indahnya ketika menjadi seorang anak-anak. Namun, mulutnya terdiam, matanya berkaca-kaca, jantungnya berdetak kencang, sosoknya yang kuat pada jaman kejayaannya, tak berdaya melawan guyuran hujan ditengah malam.. Ia lupa akan nasihat orang tuanya Ia lupa akan nasihat sahabatnya dan Ia lupa akan nasihat dari hati kecilnya. "seindah-indahnya masa lalu, masa depanmu jauh lebih indah." . . . . #tholabulilmiajadulu Surabaya, 22 Mei 2018 22:58 WIB